June 10, 2009 at 5:39 pm (Assignment)
1. One-sided assessment : sang penuduh hanya melihat konsep kesetiaan sang perempuan hanya dari sisi seksual, tidak dari sisi yang lain.
Petito principii : sang penuduh membuat argumen bahwa sang perempuan berpikiran kotor karena sang penuduh mengambil kesimpulan bahwa sang perempuan mempunyai konsep kesetiaan seperti itu hanya karena seksual.
Apriorism : Sang penuduh langsung mengambil kesimpulan dari satu kalimat yang diungkapkan sang perempuan. Sang penuduh sok tahu tentang maksud dari konsep kesetiaan sang perempuan. Padahal ia belum mendengarkannya secara detail.
Secundum quid : Sang penuduh mengambil kesimpulan terlalu cepat. Padahal ia sendiri belum tahu lebih jauh tentang konsep kesetiaan sang perempuan.
2. Informal Fallacy – Linguistic (composition) : pernyataan tersebut mengungkapkan bahwa pernikahan hanya legalitas untuk bersetubuhan. Hal ini memang berlaku untuk sebagian penganut seks bebas, namun belum tentu berlaku untuk semua penganut seks bebas.
3. Circulus of probando dan analogical Fallacy
4. Tahu adalah suatu keadaan dimana kita memiliki informasi-informasi yang berguna dalam mengatasi masalah dalam kehidupan.
5. Nyata adalah suatu keadaan dimana sesuatu tersebut berada dalam dimensi yang sama dengan kita.
6. Air gunung dan air laut. Sekilas kedua benda ini terlihat sama. Baik dari bentuknya, ataupun warnanya. Namun jika diteliti lebih mendalam lagi, terdapat perbedaan antara air gunung dan air laut, yakni tentang kadar garam dalam air. Dalam air gunung, kadar garam yang dimiliki sangat sedikit. Sedangkan pada air laut, memiliki kadar garam yang cukup tinggi. Tetapi jika diteliti lebih mendalam lagi, kedua benda ini memiliki kesamaan yaitu sama-sama senyawa H20.
Leave a Comment
June 6, 2009 at 3:55 pm (Assignment)
1. Definisi MODEL
- Model = Perwakilan / mewakili yang diwakili
2. Tujuan MODEL
- Understanding / prescription
- Prediction
Kedua tujuan diatas biasanya dilakukan dengan sebuah simulasi. Simulasi adalah menganalisa berbagai tingkah laku model sesuai waktu
3. Validasi MODEL
Real World———=Model———=Test——–=Modify(if required)—-=Model
4. Tipe-tipe MODEL
Physical
- Iconic (bentuk mirip namun tidak dapat menggantikan fungsi yang sesungguhnya)
- Analog (bentuk tidak terlalu dipentingkan, yang penting memiliki sifat yang mirip)
Symbolic
- Verbal. Contoh : kartu
- Mathematical.
5. Beberapa pembagian MODEL yang lain
- Analytic (menggunakan rumus yang telah ada untuk mendapatkan suatu hasil dari perhitungan. Contoh : dalam menghitung luas sebuah lingkaran, dapat digunakan rumus L=pi * r * r (r=jari-jari lingkaran))
- Numeric (Pencarian hasil dari suatu perhitungan dengan tidak menggunakan rumus yang telah ada, melainkan dengan cara lain yang lebih teliti. Contoh dalam pencarian luas suatu bangun tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan rumus yang ada, tetapi juga dapat dicari dengan menghitung luasan di bawah kurva(integral))
- Deterministik (Sesuatu yang telah pasti)
- Probabilistik (Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi paa suatu kejadian)
- Static (ditandai dengan tidak adanya feedback.)
- Dynamic (ditandai dengan adanya feedback)
Leave a Comment
June 6, 2009 at 2:54 pm (Assignment)
Selain terdapat Informal Fallacy – Liguistic, terdapat pula berbagai macam Informal Fallacy yang lain, yaitu
- Informal Fallacy (relevance – intrusion)
- Informal Fallacy (relevance – omission)
- Informal Fallacy (relevance – presumption)
1. Informal Fallacy (relevance – intrusion) yang masih dibagi lagi menjadi berbagai macam
- Blinding with science.
- Argumentum ad crumenam
- Emotional appeals
- Every schoolboy knows
- The genetic fallacy
- Argumentum ad hominem (abusive)
- Argumentum ad hominem (circumstancial)
- Ignoratio elenchi
- Irrelevant humour
- Argumentum ad lazarum
- Loaded words
- Argumentum ad misericordiam
- Poisoning the well
- The red herring
- The runaway train
- The slippery slope
- Tu quoque
- Argumentum ad verecundiam
- Wishful thinking
2. Informal Fallacy (relevance – omission) yang amsih dibagi menjadi berbagai macam
- Bogus dilemma
- Concealed quantification
- Damning the alternative
- Definitional retreat
- Extensional pruning
- Argumentum ad ignoratiam
- Argumentum ad lapidem
- Argumentum ad nauseam
- One-sided assessment
- Refitung the example
- Shifting ground
- Shifting the burden of proof
- Special pleading
- The straw man
- The exception thet proves the rule
- Trivial objections
- Unaccepted enthymemes
- Unobtainable perfection
3. Informal Fallacy (relevance – presumption) yang masih dibagi menjadi berbagai macam
- Abussive analogy
- Accident
- Analogical fallacy
- Argumentum ad antiquam
- Apriorism
- Bifurcation
- Circulus of probando
- Complex questions (plurium integrrogationum)
- Cum hoc ergo propter hoc
- Dicto simpliciter
- Ex-post-facto statistics
- The gambler’s fallacy
- Argumentum ad novitam
- Petitio principi
- Post hoc ergo propter hoc
- Secundum quid
- Argumentum ad temperantiam
Leave a Comment
May 17, 2009 at 11:25 am (Assignment)
FALLACIES of REASONING adalah kesalahan-kesalahan dalam menalar suatu logika. Fallacy dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Formal Fallacy
2. Informal Fallacy
Formal Fallacy sendiri dibagi menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik lagi yaitu:
1. Affirming the consequent yaitu kesalahan yang menyimpulkan suatu sebab dari suatu akibat
2. Conslusion which denies premises yaitu kesimpulan yang dimabil bertentangan dengan premisnya
3. Contradicty premises yaitu premis yang saling bertentangan
4. Denying the antecedent yaitu menentang sebab untuk membalikan akibat
5. Exclusive premisis yaitu menggunakan 2 premis negatif
6. Existence fallacy yaitu kesimpulan yang mengambil kata ‘beberapa’ dari premis yang mengandung kata ’semua’ untuk merayu orang agar percaya
7. False conversion yaitu membalik fakta yang mengandung kata ‘beberapa’
8. Illicit process yaitu adanya kesamaan antar atribut pada 2 atau lebih kelompok, tetapi tidak dengan kelompok lain
9. Positive conclusion, negative premises
10. Quaternio terminorum
11. Undistributed middle yaitu mengambil sebagian ciri dari suatu kelas untuk menyamakannya dengan kelas lain
Selain itu terdapat pula Informal Fallacy, yaitu kesalahan dalam menalar suatu logika karena suatu konteks yang salah
Informal Fallacy juga terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Linguistic accent = maksud suatu pernyataan tergantung konteks
2. Linguistic amphiboly = susunan kalimat yang ambigu
3. Linguistic composition = benar untuk setiap individu namun belum tentu benar untuk seluruh kelas
4. Linguistic division = kebalikan dari Linguistic Composition
5. Linguistic equivocation = menggunakan arti yang ambigu untuk mengakali
6. Linguistic reification / hypostatization = menganggap setiap kata memiliki eksistensi nyata
Leave a Comment